This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 30 Maret 2024

Kue Kering Tahan Berapa Lama? Ini Tips Menyimpannya Agar Tak Cepat Jamuran

Auto News - Kue kering menjadi satu hidangan khas yang tidak terpisahkan dari tradisi perayaan Lebaran.

Berbagai jenis kue kering seperti nastar, kue kacang, putri salju, dan kue lidah kucing menjadi pilihan favorit yang disajikan.

Biasanya kue ini disiapkan dari jauh hari agar lebih siap menjelang lebaran.

Nah, tips menyimpan kue kering agar awet dan tidak berjamur tentu dibutuhkan saat momen menjelang hari raya Idul Fitri ini.

Karena saking banyaknya yang disiapkan, seringkali membuat kue Lebaran tidak habis, bahkan hingga beberapa pekan setelah Hari Raya.

Jika tidak disimpan dengan benar, kue kering Lebaran tidak dapat bertahan lama, karena berjamur, lembek, atau berbau tengik.

Untuk itu perlu tahu seberapa lama kue kering bisa tahan dan cara menyimpannya agar tidak cepat jamuran.

Berikut ini kami berikan tips menyimpan kue kering yang benar agar tahan lama.

Namun sebelumnya ketahui dulu berapa lama kue kering bisa bertahan dan Layak dikonsumsi.

Kue kering tahan berapa lama?

Jika disimpan dengan cara yang benar, kue kering seperti kastengel, putri salju, dan sagu keju bisa awet sekitar satu sampai enam bulan.

Sementara itu, kue kering yang bertekstur lembut dan memiliki isian seperti nastar tidak bisa bertahan selama itu.

“Kita di Beau Bakery paling lama dua sampai tiga bulan, tapi untuk secara general, bisa sampai enam bulan,” kata Head Pastry Chef of Beau Bakery, Arief Maulana Ikhsan.

“Kalau sudah dibuka maksimal tiga bulan. Kita juga harus lihat, bukanya lama atau tidak. Semakin sering dibuka pasti akan mengurangi umur cookies,” pungkasnya.

Menurut Disy, kue kering yang tidak disimpan di dalam wadah kedap udara, hanya bisa bertahan sekira satu minggu jika sudah dibuka.

Cara simpan kue kering agar awet dan tidak jamuran

Ada beberapa tips menyimpan kue kering Lebaran agar awet dan tidak berjamur. Dengan begitu, kue tetap bisa dikonsumsi hingga beberapa hari setelah Lebaran.

Pertama simpan kue kering di dalam wadah kedap udara. Pastikan stoples yang digunakan tidak basah atau lembap agar kekeringan kue tetap terjaga.

Simpan wadah kue kering di tempat yang tidak terlalu lembap. Pastikan juga wadah kue terhindar dari paparan sinar matahari langsung.

Menambahkan silica gel food grade ke dalam wadah kue kering juga dapat membantu kue Lebaran awet dan tidak berjamur.

Silica gel berfungsi untuk menyerap kelembapan udara di dalam wadah, sehingga kue pun awet tanpa mengurangi kualitasnya.

Tingkat kelembapan udara sangat memengaruhi ketahanan kue. Pisahkan kue bertekstur lembut seperti soft cookies dengan kue bertekstur kering dan padat.

Jika keduanya dicampur, kue lembut akan berubah tekstur menjadi keras, sedangkan kue kering akan menjadi lembap.

Jika ingin menyimpan kue kering dalam waktu lama, simpan kue Lebaran di dalam freezer.

Caranya, masukkan kue kering ke dalam kantong kedap udara atau paling tidak kantong plastik zip lock. Pastikan sudah tidak ada udara di dalam kantong.

Jika kue kering akan dikonsumsi secara berkala, bungkus satu per satu dalam plastik kecil lalu lapisi dengan alumunium foil.

Saat hendak dimakan, biarkan kue kering hingga memiliki suhu ruang.

Jangan simpan kue kering di dalam chiller karena akan membuat tekstur kue menjadi sangat kering.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul 6 Tips Menyimpan Kue Kering agar Awet dan Tidak Jamuran

Senin, 18 Maret 2024

5 Tipe Kepribadian Kucing yang Perlu Anda Ketahui

Auto News , Jakarta - Memiliki hewan peliharaan di rumah adalah sebuah keputusan yang seringkali dianggap menyenangkan, tetapi juga bisa menjadi tantangan tersendiri. Setiap hewan peliharaan memiliki kepribadian uniknya sendiri. Jika Anda memutuskan untuk memelihara kucing , penting untuk memahami dan mengenali berbagai karakter kucing.

Dilansir dari laman Meowingtons , berikut lima tipe kepribadian kucing:

1. Kucing Neurotik

Kucing dengan tipe kepribadian neurotik biasanya cenderung gelisah, takut kepada orang asing, dan selalu curiga. Mereka lebih memilih untuk bersembunyi dan enggan berinteraksi ketika berada di lingkungan baru. Jika Anda memiliki kucing dengan karakter neurotik, lebih baik sediakanlah rumah atau tempat persembunyian yang nyaman baginya. Hal ini akan lebih baik daripada membiarkan kucing tersebut mencari tempat berlindung sendiri di sudut-sudut rumah yang mungkin berbahaya baginya.

Menurut dokter hewan Pippa Elliott, berinteraksi dengan kucing neurotik pada awalnya bisa sedikit sulit. Mereka cenderung menghindari situasi yang baru dan menganggapnya sebagai sesuatu yang menakutkan. Karena itu, berikanlah sambutan yang ramah dan hangat agar kucing tersebut merasa aman dan percaya.

2. Kucing Lincah

Kucing dengan kepribadian yang lincah akan menjadi sangat menyenangkan saat diajak bermain. Mereka bahkan tak segan untuk bermain kotoran dengan tuannya. Karakteristik kucing tersebut cenderung tidak mudah bosan, penuh rasa ingin tahu, dan kadang-kadang bisa menjadi destruktif. Pemilik kucing dengan karakter ini sebaiknya memiliki banyak mainan yang aman dan menarik untuk dimainkan oleh kucing.

3. Kucing Dominan

Kucing yang dominan seperti Garfieldl suka menjadi pusat perhatian di lingkungannya. Mereka merasa memiliki hak penuh atas segala hal di rumah, mulai dari tempat makan, tempat tidur, mainan tertentu, hingga kotak kotoran. Namun, kucing dominan ini cenderung mudah stres jika tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Mereka bahkan bisa terlibat dalam pertarungan dengan kucing lain atau membuat keributan hanya untuk menarik perhatian pemiliknya.

4. Kucing Impulsif

Pemilik kucing impulsif harus pandai membaca perilaku hewan peliharaan mereka. Kucing jenis ini biasanya sangat sensitif terhadap situasi atau hal-hal yang dapat membuatnya stres. Misalnya suara bising, gambar tertentu, atau benda-benda yang dapat menimbulkan rasa takut. Karena itu, pemilik kucing impulsif sebaiknya tidak terkejut jika tiba-tiba kucing kesayangannya melakukan tingkah laku yang aneh atau tidak terduga.

5. Kucing Selow

Kucing dengan karakter selow cenderung membuat pemiliknya merasa tenang dan nyaman. Mereka mudah diurus, jarang rewel, tidak suka berkelahi dengan kucing lain, dan biasanya bersikap tertib dalam kehidupan sehari-hari.

5 Kiat Merawat Kesejahteraan Hewan Peliharaan

Selasa, 05 Maret 2019

ASKEP/ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN JIWA HALUSINASI


A.  PENGERTIAN
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana pasien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra tanda ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melaluipanca indra tanpa stimullus eksteren : persepsi palsu. (Prabowo, 2014: 129)Halusinasi adaah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsnagan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang yang berbicara.(Kusumawati & Hartono, 2012:102)Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana klien mengalamai perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan, perabaaan atau penghiduan. Klien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada. (Damaiyanti, 2012: 53).


B.  KLASIFIKASI HALUSINASI
Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan karakteristik tertentu, diantaranya : a.Halusinasi pendengaran: karakteristik ditandai dengan mendengarsuara, teruatama suara – suara orang, biasanya klien mendengarsuara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu. b.Halusinasi penglihatan : karakteristik dengan adanya stimuluspenglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik,gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan. c.Halusinasi penghidu : karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti : darah, urine atau feses. Kadang – kadang terhidu bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia. d.Halusinasi peraba : karakteristik ditandai dengan adanyarasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain. e.Halusinasi pengecap : karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan. f.Halusinasi sinestetik : karakteristik ditandai dengan merasakan fungsitubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine.
C.  PROSES TERJADINYA HALUSINASI
1.      Faktor Predisposisi
a.       Faktor Perkembangan
Tugas perkembangan pasien terganggu mislnya rendahnya kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan pasien tidak mampu mandiri sehjak kecil, mudah frustasi, hilangnya percaya diri dan lebih rentan terhadap stress.
b.      Faktor Sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak diterima di ingkungannya sejak bayi akan merasa disingkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya.
c.       Faktor Biokimia
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. Adanya stress yang berlebih dialami seseorang maka di dalam tubuh akan dihasilkan zat yang dapat bersifat halusinogenik neurokimia. Akibat stress berkepanjangan menyebabakan teraktivasinya neutransmitter otak.
d.      Faktor Psikologi
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus padapenyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan pasien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Pasien lebih memilih kesenangan sesaat dan lari dari alamnyataa menuju alam hayal.
e.       Faktor Genetik dan Pola Asuh
Penelitian menunjukkan bahwaanak sehat yang diasuh oleh orang tua skizofrenia cenderung mengalamai skizofrenia. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor keluarga menunjukkan hubungan yang sangat berpengaruh padapenyakit ini. (Prabowo, 2014: 132-133)
2.      Faktor Presipitasi
a.       Biologis
Gangguan dalam momunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterprestasikan.
b.      Stress Lingkungan
Ambang toleransi terhadap tress yang berinteraksi terhadap stresosor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c.       Sumber Koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menamggapi stress.(Prabowo, 2014: 133).
d.      Perilaku
Respons klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku menarik diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan nyata dan tidak.
1.      Dimensi fisik
Halusianasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium, intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalamwaktu yang lama.
2.      Dimensi emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusianasi itu terjadi, isi dari halusinasi dapat berupa peritah memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan tersebut.
3.      Dimensi intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa individu dengan halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi merupakan usha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang menekan,namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengotrol semua perilaku klien.
4.      Dimensi sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosial dalam fase awal dan comforting, klien menganggap bahwa hidup bersosialisasi dialam nyata sangat membahayakan. Klien asyik dengan dengan halusinasinya, seolah-olah ia merupakan tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan harga diri yang tidak didapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi dijadikan kontrol oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasiberupa ancaman, dirinya atau orang lain individu cenderung keperawatan klien dengan mengupayakan suatu proses interkasi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan, serta mengusahakan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya dan halusinasi tidak berlangsung.
5.      Dimensi spiritual
Secara spiritualklien halusinasi mulai dengan kehampaan hidup, rutinitas, tidak bermakna, hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupaya secara spiritual untuk menyucikan diri, irama sirkardiannya terganggu.(Damaiyanti, 2012: 57-58)
D.  JENIS HALUSINASI
Halusinasi terdiri dari beberapa jenis, dengan karakteristik tertentu, diantaranya:
  1. Halusinasi Pendengaran ( akustik, audiotorik)
Gangguan stimulus dimana pasien mendengar suara-suara terutama suara-suara orang, biasanya pasien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.
  1. Halusinasi Pengihatan (visual)
Stimulus visual dalam bentuk beragam seperti bentuk pencaran cahaya, gambaraan geometrik, gambar kartun dan/ atau panorama yang luas dan komplesk. Bayangan bias bisa menyenangkan atau menakutkan.
  1. Halusinasi Penghidu (Olfaktori)
Gangguan stimulus pada penghidu, yamg ditandai dengan adanya bau busuk, amis, dan bau yang menjijikan seperti : darah, urine atau feses. Kadang-kadang terhidu bau harum. Biasnya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia.
  1. Halusinasi Peraba (Taktil, Kinaestatik)
Gangguan stimulus yang ditandai dengan adanya sara sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
  1. Halusinasi Pengecap (Gustatorik)
Gangguan stimulus yang ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis, dan menjijikkan.
  1. Halusinasi sinestetik
Gangguan stimulus yang ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalirmelalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine. (Yosep Iyus, 2007: 130)
  1. Halusinasi Viseral
Timbulnya perasaan tertentu di dalam tubuhnya.
a.       Depersonalisasi adalah perasaan aneh pada dirinya bahwa pribadinya sudah tidak seperti biasanya lagi serta tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Sering pada skizofrenia dan sindrom obus parietalis. Misalnya sering merasa diringa terpecah dua.
b.      Derelisasi adalah suatu perasaan aneh tentang lingkungan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya perasaan segala suatu yang dialaminya seperti dalam mimpi. (Damaiyanti, 2012: 55-56).
E.   Rentang Respon
Persepsi mengacu pada identifikasi dan interprestasi awal dari suatu stimulus berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indra. Respon neurobiologis sepanjang rentang sehat sakit berkisar dari adaptif pikiran logis, persepsi akurat, emosi konsisten, dan perilaku sesuai sampai dengan respon maladaptif yang meliputi delusi, halusinasi, dan isolasi sosial. Rentang respon dapat digambarkan sebagai berikut:
Rentang Respon:
  1. Respon adaptif
Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma-norma social budaya yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah tersebut. Respon adaptif :
a.       Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan
b.      Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan
c.       Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul dari pengalaman ahli
d.      Perilaku social adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam batas kewajaran
e.       Hubungan social adalah proses suatu interaksi dengan orang lain dan lingkungan.
  1. Respon psikosossial
Meliputi :
a.       Proses piker terganggu adalah proses pikir yang menimbulkan gangguan
b.      Ilusi adalah miss interprestasi atau penilaian yang salah tentang penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena rangsangan panca indra
c.       Emosi berlebih atau berkurang
d.      Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi batas kewajaran
e.       Menarik diri adalah percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain.
  1. Respon maladapttif
Respon maladaptive adalah respon individu dalam menyelesaikan masalah yang menyimpang dari norma-norma social budaya dan lingkungan, ada pun respon maladaptive antara lain :
a.       Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh dipertahankan walaupun tidak diyakin ioleh orang lain dan bertentangan dengan kenyataan social.
b.      Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau persepsi eksternal yang tidak realita atau tidak ada.
c.       Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari hati.
d.      Perilaku tidak terorganisi rmerupakan sesuatu yang tidak teratur
e.       Isolasi sosisal adalah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu kecelakaan yang negative mengancam.(Damaiyanti,2012: 54)
F.   Proses Terjadinya Masalah
Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase dan setiap fase memiliki karakteristik yang berdeda yaitu:
  1. Fase I
Pasien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah dan takut serta mencoba berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini pasien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan mata yang cepat, diam dan asyik sendiri.
  1. Fase II
Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan. Pasien mulai lepas kendali dan mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumberdipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital ( denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah), asyik dengna pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan reaita.
  1. Fase III
Pasien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Di sini pasien sukar berhubungan dengan orang ain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah dari orang ain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan terutamajika akan berhubungan dengan orang lain.
  1. Fase IV
Pengalaman sensori menjadi mengancam jika pasien mengikuti perintah halusinasi. Di sni terjadi perikalu kekerasan, agitasi, menarik diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang komplek dan tidak mampu berespon lebih dari 1orang. Kondisi pasien sangan membahayakan. ( Prabowo, 2014: 130-131)
G.  Tanda dan Gejala
Perilaku paisen yang berkaitan dengan halusinasi adalah sebagai berikut:
  1. Bicara, senyum, dan ketawa sendiri
  2. Menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, dan respon verba lambat
  3. Menarik diri dari orang lain,dan berusaha untuk menghindari diri dari orang lain
  4. Tidak dapat membedakan antara keadaan nyata dan keadaan yang tidak nyata
  5. Terjadi peningkatan denyut ajntung, pernapasan dan tekanan darah
  6. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik dan berkonsentrasi dengan pengalaman sensorinya.
  7. Curiga, bermusuhan,merusak (diri sendiri, orang lain dan lingkungannya) dan takut
  8. Sulit berhubungan dengan orang laini.Ekspresi muka tegang, mudah tersinggung,jengkel dan marah
  9. Tidak mampu mengikuti perintahk.Tampak tremor dan berkeringat, perilaku panik, agitasi dan kataton. (Prabowo, 2014: 133-134)
Akibat
Akibat dari hausinasi adalah resiko mencederai diri, orang lain dan ingkungan. Ini diakibatkan karena pasien berada di bawah halusinasinya yang meminta dia untuk melakuka sesuatu hal diluar kesadarannya.( Prabowo, 2014: 134)
Mekanisme Koping
  1. Regresi : menjadi malas beraktivitas sehari-hari
  2. Proyeksi : menjeslaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha untuk mengaliskan tanggung jawab kepada orang lain
  3. Menarik diri : sulit mempercayai orang lain dan asyik dengan stimuus internal. (Prabowo, 2014:134)
H.  Penatalaksanaan
Pengobatan harus secepat mungkin harus diberikan, disini peran keluarga sangat penting karena setelah mendapatkan perawatan di RSJ pasien dinyatakan boleh pulang sehingga keluarga mempunyai peranan yang sangat penting didalam hal merawat pasien, menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif dan sebagai pengawas minum obat
  1. Farmakoterapi
Neuroleptika dengan dosis efektif bermanfaat pada penderita skizofrenia yang menahun,hasilnyalebih banyak jika mulai diberi dalam dua tahun penyakit.Neuroleptika dengan dosis efek tiftinggi bermanfaat pada penderita psikomotorik yang meningkat.
  1. Terapi kejang listrik
Terapi kejang listrik adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mall secara artificial dengan melewatkan aliran listrik melalui electrode yang dipasang pada satu atau dua temples, terapi kejang listrik dapat diberikan pada skizofrenia yang tidak mempan dengan terapi neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi kejang listrik 4-5 joule/detik.
  1. Psikoterapi dan rehabilitasi
Psikoterapi suportif individual atau kelompok sangat membantu karena berhubungan dengan praktis dengan maksud mempersiapkan pasien kembalikemasyarakat, selain itu terapi kerja sangat baik untuk mendorong pasien bergaul dengan orang lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya pasien tidak mengasingkan diri karena dapat membentuk kebiasaan yang kurang baik, dianjurkan untuk mengadakan permainan atau latihan bersama, seperti therapy modalitas yang terdiri dari :
a.       Terapi aktivitas
1)      Terapi music
Focus ; mendengar ; memainkan alat musik ; bernyanyi. yaitu menikmati dengan relaksasi music yang disukai pasien.
2)      Terapi seni
Focus: untuk mengekspresikan perasaan melalui beberapapekerjaan seni.
3)      Terapi menari
Focus pada: ekspresi perasaan melalui gerakan tubuh
4)      Terapi relaksasi
Belajar dan praktik relaksasi dalam kelompokRasional : untuk koping/perilaku mal adaptif/deskriptif meningkatkan partisipasi dan kesenangan pasien dalam kehidupan.
5)      Terapi social
Pasien belajar bersosialisai dengan pasien lain
6)      Terapi kelompok
a)      Terapi group (kelompok terapeutik)
b)      Terapi aktivitas kelompok (adjunctive group activity therapy)
c)      TAK Stimulus Persepsi; Halusinasi
Sesi 1 : Mengenal halusinasi
Sesi 2 ; Mengontrol halusinasi dengan menghardik
Sesi 3 ; Mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan
Sesi 4 ; Mencegah halusinasi dengan bercakap-cakap
Sesi 5 : mengontrol halusinasi dengan patuh minum obat.
d)     Terapi lingkungan
Suasana rumah sakit dibuat seperti suasana d idalam keluarga( Home Like Atmosphere).(Prabowo,2014: 134-136)
I.      Diagnosa Keperawatan
Perubahan sensori persepsi: halusinasi b/d menarik diri
Rencana asuhan Keperawatan
Tujuan Umum
Pasien dapat mengontrol halusinasi yang dialaminya
Tujuan Khusus
TUK1: pasien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria Hasil
Setelah 1 X interaksi, pasien mampu membina hubungan saling percaya dengan perawat dengan kriteria: ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang, da kontak mata, mau berjabat tangan, maumenyebutkan nama, mau dududk berdampingan dengan perawat, mau mengungkapkan perasaannya
Intervensi
Bina hubungna saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik
  1. Sapa pasien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
  2. Perkenakan nama, nama panggilan dan tujuan perawat berkenalan
  3. Tanyakan nama lengkap dan panggilan yang disukai pasien
  4. Buat kontrak yang jelase)Tunjukkan sikap jujur dan menunjukkan sikap empati serta menerima apa adanya
  5. Beri perhatian kepada pasien dan perhatikan kebutuhan dasarpasien
  6. Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaannya
  7. Dengarkan ungkapan pasien dengan penuh perhatian ada ekspresi perasaan pasien.
TUK 2: pasien dapat mengenal halusinasinya
Kriteria Hasil
Setelah 2 X interaksi, pasien dapat menyebutkan:
  1. Isi
  2. Waktu
  3. Frekuensi
  4. Situasi dan kondisi yang menimbulkan halusinasi
Intervensi
  1. Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
  2. Observasi tingkah laku yang terkait dengan halusinasi ( verbal dan nono verbal)
  3. Bantu mengenal halusinasi
  4. Jika pasien tidak sedang berhalusinasi klarivikasi tentang adanya pengalaman halusinasi, diskusikan dengan pasien isi, waktu, dn frekuensi halusinasi pagi, siang , sore, malam atau sering, jarang )
  5. Diskusikan tentang apa yang dirasakaan saat terjadi hausinasi
  6. Dorong untuk mengungkapkan perasaan saat terjadi halusinasi
  7. Diskusikan tentang dampak yang akan dialami jika pasien menikmati halusinasinya.
TUK 3 : pasien dapat mengontrolhalusinasinya
Kriteria Hasil
Seteah 2 Xinteraksi pasien menyebutkan tindakan yang biasanya diakukan untuk mengendalikan halusinasinya.
Intervensi
  1. Identifikasi bersama tentang cara tindakan jika terjadi halusinasi
  2. Diskusikan manfaat cara yang digunakan paisen
  3. Diskusikan cara baru untuk memutus/ mengontrol halusinasi
  4. Bantu pasien memiih cara yang sudah dianjurkan dan latih untuk mencobanya
  5. Pantau pelaksanaan tindakan yang telah dipiih dan dilatih, jika berhasi beri pujian
TUK 4 : pasien dapat dukungan dari keluarga daam mengontrol hausinasi
Kriteria Hasil
Setelah 2X interaksi keluarga menyatakan setuju untuk mengikuti pertemuan dengan perawat
Intervensi
  1. Buat kontak pertemuan dengan keluarga (waktu, topik, tempat)
  2. Diskusikan dengan keluarga : pemgertian halusianasi, tanda gejala, proses terjadi, cara yang bisa diakukan oleh pasien dan keluarga untuk memutus halusinasi, obat-obat halusinasi, cara merawat pasien halusinasi dirumah, beri informasi waktu follow up atau kapan perlu mendapat bantuan.
  3. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluargae.
TUK 5: pasien dapat menggunakanobatdengan benar
Kriteria Hasil
Setelah 2X interaksi pasien mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar
Intervensi
  1. Diskusikan tentang manfaat dan kerugian tidak minum obat, dosis, nama, frekuensi, efek samping minum obat
  2. Pantau saat pasien minum obat
  3. Anjurkan pasien minta sendiri obatnya pada perawat
  4. Beri reinforcemen jika pasien menggunakan obat dengan benar
  5. Diskusikan akibat berhenti minum obat tanpa konsultasi dengan dokter
  6. Anjurkan pasien berkonsultasi dengan dokter/perawat jika terjadi hal-hayang tidak diinginkan. (Prabowo, 2014)

DAFTAR PUSTAKA
Eko Prabowo. (2014). Konsep & Aplikasi Asuhan Keperawatan Jiwa.Yogyakarta: Nuha Medika.
Iyus, Y. (2007). Keperawatan Jiwa.Bandung: PT refika Aditama.
Mukhripah Damayanti, Iskandar . (2012). Asuhan Keperawatan Jiwa.Bandung: Refika Aditama.
Sundeen, S. A. (1998). Keperawatan Jiwa Edisi III.Jakarta: EGC.
Wijayaningsih, K. s. (2015). Panduan Lengkap Praktik Klinik Keperawatan Jiwa.Jakarta Timur: TIM.